Bila luka tubuh akan kembali seperti semula dengan berjalannya waktu bagaimana dgn luka hati (emosi)..??

Hal ini sangat relevan

mengingat negara tercinta kita ini terakhir sering dilanda bencana; tsunami, gempa bumi, kebakaran, banjir dll.
Suatu peristiwa yg sama terhadap orang yg berbeda akan menimbulakn reaksi yg berbeda pula.
Artinya tingkat ketahanan & reaksi emosional sesorang atas suatu musibah berbeda pula. 

Itulah yg membuat Thom Hartman meneliti & akhirnya menulis buku yg berjudul “Terapi Jalan Kaki”.
Judul buku itu sangat menggoda walau utk membacanya aku tak mampu krn penuh istilah anatomi kedokteran & latar belakang psikologi.

Kita semua tahu berjalan kaki adalah olah raga yg ringan & baik utk tubuh. Banyak penjelasan medis yg mudah dicerna seperti melancarkan peredaran darah, membuat jantung kuat, mengurangi berat badan, melatih otot-tot tubuh, memperkuat tulang dll.
Bahkan mungkin beberapa teman yg suka Pengobatan Tiongkok, refleksi kaki tahu banyak pusat syaraf di kaki yg menjadi tumpuan manusia berjalan ternyata sangat mempengaruhi banyak kerja organ tubuh.

 

Lalu , apa yang unik..??
Di dlm otak kita ada bagian yg disebut hipokamus yg merupakan diary harian peristiwa kita.
Di saat menjelang tidur seluruh kejadian sehari akan dicatat di sana utk disebarkan kebagian otak lain.
Normalnya esok hari hipokamus ini akan bersih kembali untuk diisi lagi dgn ingatan persitiwa seharian berikutnya.
Bila kemudian terlalu banyak yg harus dicatat & tak mampu, maka akan diteruskan keesokan harinya.

 

Inilah yg terjadi dgn trauma seolah-olah kita melihat kejadian ”waktu itu” seperti saat ini.
Perasaan emosi itu terbawa terus di bawah alam sadar kita.
Ia menggarisbawahi yg disebut terapi bilateral, dimana prisnipnya adalah menyeimbangkan otak kanan & otak kiri.

Menurutnya jalan kaki kalau kita perhatikan adalah pekerjaan yg sangat ritmis menyeimbangkan otak kiri & kanan.
Ternyata jalan kaki tidak hanya berguna uik kesehatan fisik semata, ttp jg dpt mengatasi trauma, utk membangun motivasi, kreativitas & pemecahan masalah.

Gerakkan dlm berjalan kaki seperti dlm gerakan senam otak yg disebut ‘gerakan silang’ – lengan kanan berayun ke depan bersamaan dgn ayunan kaki kiri ke depan, lalu lengan kanan bersamaan dgn kaki kiri, bolak balik gerakan ini dilakukan.

Orang tidak sadar bahwa gerakan ini yg disebut gerakan ‘bilateral berirama’.
Saat berjalan kaki, secara bergantian melibatkan belahan otak kiri & otak kanan.

Kondisi ini memungkinkan dua sisi otak utk bersatu mematahkan belenggu pikiran & membebaskan diri dr stress pasca trauma & depressi. 

Semangat..?? Tidak usah ditanya.
Bgmn perasaan kita ketika suatu kali kita sengaja pengin berjalan kaki.
Pasti sll senang bukan, perasaan begitu nyaman.
Bila Sabtu sore anda tanya tetangga anda mau kemana, jawabannya ringan mau jalan-jalan.
Walau mungkin naik kendaraan, Jalan-jalan sudah terekam sbg sarana hiburan & ujungnya utk memompa semangat.

Kreativitas..??
Bahkan seorang pemimpin negara pernah mengatakan, ”..Jangan kau percayai pikiranmu kalau tidak sedang berjalan ..”
Beliau begitu percaya apa yg diputuskan ketika sedang berjalan di saat rileks adalah saat puncak utk memutuskan sesuatu yang rumit.

Budaya modern makin mengurangi kesempatan jalan kaki.
Banyak alat tranportasi yg serba mudah didapatkan utk membantu manusia. Dan kehidupan kita mmg sudah diketahui hanya membesarkan salah satu bagian otak saja terutama yg berurusan dgn logika.

Sebuah penelitian membuktikan, di sebuah masyarakat yg banyak melakukan pekerjaan dgn berjalan kaki, tingkat trauma akan rendah.
Hingga sampai kesimpulan ekstrim, masyarakat Eropa menjadi kejam hanya krn kenikmatan alat tranportasi.

 

Betapa jauhnya perubahan cara hidup suatu masyrakat mempengaruhi emosinya & penaggulangan atas trauma.
”Berjalan adalah obat yang terbaik,” kata Socrates, suatu hal sederhana yg tidak kita sadari.

Saya jd ingat Leo Kristi yg hobby berjalan kaki.
Ya, jalan yg sesungguhnya tak ada capeknya walau jelang usia 60 tahun.

Setelah kita dikejutkan ttg bijaksananya kekuatan rumah adat atas gempa, kini semoga kita tahu bahwa manusia terlahir dgn mekanisme penyembuahn luka emosi atau self healing yg sederhana namun kehidupan modern tlh menggesernya.

Selamat berjalan kaki yg sejauh-jauhnya
jala…jalan….jalan….berjalan lagi dan la….lagi..dan lagi