Jumat, November 5th, 2010




MISTERI JENONG LOUHAN
Tampaknya sulit dipisahkan antara kehadiran “jenong”, atau “nongnong” atau tonjolan di kepala dengan kehadiran sosok seekor ikan Louhan. Bahkan seolah-olah sudah menjadi “trademark” bahwa ikan Louhan harus identik dengan kepala “jenong”. Tidak sedikit para hobiis Louhan akan kecewa kalau mendapati ikan Louhan peliharaannya ternyata tidak berkepala jenong.
Apalagi bila ikan tersebut telah dipeliharanya sedari kecil dan dengan penuh harap bahwa kepalanya kelak akan jenong setelah dewasa. Berbagai upaya “mati-matian”pun tampak kerap dilakukan oleh para hobiis agar kepala ikannya bisa menjadi “jenong”, dari mulai memberi pakan jenis tertentu hingga melakukan berbagai macam perlakuan atau “latihan” . 

Keinginan agar memiliki kepala ikan jenong inipun tidak disia-siakan oleh para produsen pakan ikan. Berbagai produk pakanpun diluncurkan dan diklaim dapat menjenongkan kepala ikan Louhan, bahkan diantaranya menyebutkan produknya dapat membuat jenong dalam waktu singkat. Beberapa produk bahkan disertai dengan kesaksian para penggunanya yang telah membuktikan keampuhan pakan tersebut, sebagai daya tarik. Tidak urung produk pakan penjenong kepala ini pun sempat membuat miris beberapa pemelihara ikan hias jenis lain, karena dikhawatirkan pakan ini akan mampu menjenongkan kepala ikan peliharaan mereka yang justru tidak diharapkan menjadi jenong, seperti ikan Arwana, misalnya. Tampilan seekor arwana tentunya akan nampak “rusak” apabila kepalannya tiba-tiba tumbuh jenong akibat salah memberikan jenis pakan.

Ikan dan “Jenong”
Jenong, atau dalam bahasa Inggrisnya dikenal sebagai nuchal hump, atau cranial bump pada kenyataanya bukan hanya didominasi ikan Louhan. Berbagai jenis ikan, terutama dari keluarga cichlid, yaitu keluarga asal muasal Louhan, telah sejak lama “berevolusi” membentuk jenong di kepala. Berapa jenis ikan dari keluarga lainpun diketahui pula memiliki jenong dikepala. 

Cyphotilapia frontosa merupakan salah satu contoh keluarga cichlid yang berkepala jenong. Ikan dengan tampilan bak kuda zebra dengan warna dasar kebiruan ini sudah sangat dikenal dengan jenong di kepalanya. Geophagus hondae, yang berasal dari Columbia, juga dikenal dengan jenongnya. Tidak diragukan lagi adalah Cichlasoma citrinelum (Amphilopus citrinellus) , dan C.Synspillum. Dua jenis ikan yang diduga merupakan cikal bakal dari Louhan ini memang merupakan jenis ikan yang memiliki kepala jenong yang tergolong “luar biasa”.

selain itu, deretan ikan lain, masih dari keluarga cichlidae, yang diketahui memiliki kepala jenong adalah Haplochromis moorii, Hypselecara temporalis, Acara facestus, Cichlasoma nigrofasciatum, Cichlasoma spirulum, Geophagus balzani, dan masih banyak lainnya. Disamping itu, kepala jenong pun diketahui pula dimiliki oleh jenis ikan lain diluar kaluarga cichlidae, termasuk mereka yang hidup di air laut.
Misteri Jenong
Penciri Seksual
Kehadiran jenong pada ikan, khususnya keluarga cichlid sampai saat ini masih diperdebatkan. Kontroversi mengenai jenong ini masih terus bermunculan sejak berpuluh tahun lalu, bahkan hingga saat ini. Berbagai pendapat mengenai hal tersbut banyak dimunculkan oleh berbagai peneliti, berdasarakan hasil penelitian dan pengamatan yang mereka lakukan. 

Yang menarik, tidak sedikit diantara mereka yang mengatakan bahwa sebenarnya kehadiran jenong ini adalah sebagai penciri seksual. Yaitu penciri untuk membedakan antara ikan jantan dengan ikan betina. Hal ini berdasarkan kenyataan bahwa pada umumnya, ikan jantanlah yang sering memiliki jenong dikepala. Jenong ini bisa tumbuh sampai ukuran yang luar biasa. Munculnya jenong memang tampak membuat ikan yang bersangkutan menjadi gagah, dan indah. Tidak hanya manusia, atau terutama pemeliharannya yang merasa kagum, bahkan si ikan betinapun akan “klepek-klepek”, terpesona pada penampilan jantan yang demikian. Dikatakan bahwa penampilan jenong pada ikan jantan, selain sebagai daya tarik, juga akan mempermudah si betina dalam menentukan pilihan dalam menjadinya sebagai “bapaknya anak-anak”. Dari jenong inilah si betina akan dapat menilai bagaimana kualitas dari si jantan tersebut. Sehingga si betina akan dapat menentukan apakah jantan tersebut cocok atau tidak menjadi pedamping hidupnya dan meneruskan keturunannya. Ibaratnya jenong itu seakan memberikan gambaran berapa banyak “kekayaannya”, berapa jumlah mobilnya, masa depannya, kepribadiannya, rumahnya perusahaannya dan lain-lain.

Akan tetapi ada suatu kecenderungan yang membuat para pengamat sempat tercengang, yaitu, ternyata apabila jenong ikan jantan tumbuh mencapai ukuran tertentu, justru akan ditinggalkan si betina. Tampaknya, hal ini, kurang lebih sama dengan sosok penampilan pada diri manusia (baca pria). Apabila tubuhnya atletis atau padat berisi mungkin akan terlihat macho dimata lawan jenisnya. Tapi apabila “ukuran tubuh”nya apalagi bagian perutnya, sudah mencapai ukuran tertentu, mungkin tidak akan banyak lawan jenis yang meliriknya. Kira-kira seperti itulah padanan jenong pada ikan yang diamati oleh para peneliti tersebut.

Pendapat yang mangatakan bahwa jenong adalah penciri seksual, tampaknya tidak cukup kuat. Mengapa?. Karena ternyata,setelah banyak dilakukan pengamatan, banyak jenis ikan yang betinanya juga ternyata memiliki kepala jenong. Suatu hal yang cukup kontroversial. Meskipun demikian, pendapat ini masih kerap digunakan, dengan catatan bahwa ikan jantan, pada umumnya, akan memiliki jenong yang lebih besar daripada jenong yang dimiliki oleh ikan betina.

Alat Berkelahi
Pendapat lain mengenai jenong pada ikan adalah sebagai alat berkelahi, atau sebut saja sebagai semacam “sarung tinju”. Hal ini didasarkan pada pengamatan bahwa jenong sering dijumpai pada jenis-jenis ikan atau kelompok ikan yang suka berkelahi. Jantan oleh karenanya sangat relevan terkait dengan hadirnya jenong di kepalanya, karena jantanlah yang biasanya sering berkelahi karena berbagai alasan. 

Akan tetapi pendapat inipun tidak terlalu memuaskan. Mengapa??. Berdasarkan pengamatan lebih lanjut pada jenis-jenis ikan yang “gemar berkelahi”, dan tentu saja berjenong, ternyata banyak dijumpai bahwa ikan betinanya pun sering berkelahi. Jadi dalam kelompok tertentu ini, baik si jantan maupun betina sama-sama suka berkelahi. Tetapi yang memiliki jenong hanyalah ikan jantan saja. Oleh karena itu, pendapat bahwa jenong adalah alat berkelahi dianggap belum sempurna. Karena, menurut para pengamat ini, apabila jenong adalah alat berkelahi, maka betina pada kelompok ikan inipun mestinya tumbuh jenong dikepalanya

Cadangan Makanan
Disamping dua pendapat diatas, tidak sedikit pengamat yang menyatakan bahwa jenong adalah tempat untuk meyimpan makanan. Hasil penelitian menyatakan bahwa jenong terdiri dari lemak. Kenyataan pun tampak mendukung pendapat ini, yaitu ikan yang dipelihara dalam akuarium cenderung memiliki jenong yang jauh lebih besar dibandingkan ikan yang hidup di habitat aslinya di alam. 

Kehidupan dalam akuarium akan menjamin suplai pakan yang kontinyu. Selain itu ruang gerak yang relatif sedikit memungkinkan suplai pakan yang dikonsumsi tidak terbakar habis menjadi energi, sehingga cadangan makan menumpuk sebagai jenong. Sedangkan di alam, mereka harus berebut makanan, yang mungkin saja tidak tersedia dalam jumlah berlimpang sepanjang tahun. Selain itu di alam, mereka dituntut untuk selalu bergerak aktif, sehingga tidak banyak kelebihan makanan yang bisa disimpan dalam bentuk jenong besar. Akan tetapi pendapat inipun medapat tentangan, karena ternyata selain lemak, jenong dikepala ini juga berisi air dalam jumlah relatif banyak.

Alat Bantu Gerak dan Pelindung
Jenong ikan diduga juga merupakan alat bantu gerak ikan dalam air, yaitu sebagai salah satu mekanisme hidrodinamik ikan untuk bergerak dalam air, seperti yang dijumpai pada ikan Salmon. Akan tetapi pada cichlid, bentuknya yang membulat dengan ukuran yang besar, justru dianggap hanya akan menjadi penghambat gerakannya, sehingga pendapat inipun diangap kurang memuaskan. 

Selain sebagai alat bantu gerak, ada juga yang berpendapat bahwa jenong merupakan alat pertahanan atau alat pelindung dari ikan tersebut dari para pemangsanya. Akan tetapi lagi-lagi pendapat ini mendapat tentangan. Apabila jenong adalah sebagai alat pelindung dari para pemangsanya mestinya ikan betina juga berhak memiliki jenong.

Epilog
Satu hal yang perlu diketahui, kehadiran jenong pada cichlid bervariasi sepanjang waktu. Pada waktu-waktu tertentu jenong akan tampak membesar, terutama pada saat menjelang masa kawin. Sedangkan pada selang waktu yang lain , khususnya pada masa-masa dimana diperlukan banyak energi, sebut saja pada saat kawin, mereka akan mengecil, atau bahkan hilang sama sekali. Hal ini menunjukkan bahwa ukuran jenong tergantung pada bioritme ikan yang bersangkutan. 

Yang pasti, sifat jenong merupakan sifat yang diturunkan. Sebagai contoh kalau kita memelihara anakan C. citrinelum, tanpa diberikan perlakuan khusus apapun, maka ikan ini setelah sampai pada masanya akan tumbuh jenong di kepalanya, bahkan mencapai ukuran yang aduhai. Oleh karena itu, dalam hubungannya dengan Louhan, hal ini perlu diberi catatan. Seperti dikemukakan sebelumnya Louhan adalah hibrid dari berbagai jenis cichlid. Dengan demikian, apabila tetua dari Louhan ini merupakan jenis cichlid dari jenis jenong, maka keturunannya akan jenong, sekaliapun tanpa perlakuan khusus. Sayangnya untuk mengetahui tetua Louhan yang sebenarnya tidak terlalu mudah, karena tetuanya masih sering dirahasiakan. Hanya kejujuran dari para breeder lah yang tampaknya masih dapat dijadikan pegangan.

Beberapa upaya “penjenongan” kepala Louhan yang sering dianjurkan selama ini, kurang lebih mengacu pada dugaan-dugaan fungsi dari jenong pada kaluarga cichlid. Misalnya pemberian cermin. Pemberian cermin diyakini dapat membuat Louhan menjadi jenong, hal ini nampaknya berkaitan dengan dugaan bahwa jenong adalah alat berkelahi. Dengan demikian, dengan adanya bayangan dirinya pada cermin tersebut, Louhan akan merasa dirinya memiliki musuh, sehingga memicu hormon tertentu dalam tubuhnya untuk membesarkan jenongnya.

Bagi mereka yang menganut dugaan bahwa jenong adalah media penyimpan makanan, maka perlakuan dengan memberikan pakan jenis tertentu, khsusunya dengan kadar lemak tinggi, diharapkan akan dapat membangkitkan jenong. Beberapa ada yang memberikan perlakuan dengan menempatkan Lohan pada tempat yang sempit, sehingga Louhan tidak bisa banyak bergerak agar tidak banyak energi yang terbuang. Hal ini diharapkan akan menyebabkan terjadinya penimbunan lemak pada jenong, sehingga jenong akan membesar.

Tidak ada salahnya apabila kita mencoba berbagai upaya tesebut, selama hal tersebut dilakukan dalam batas-batas yang normal, dan dengan memperhatikan kepentingan ikan itu sendiri. Artinya jangan sampai apa yang kita lakukan justru berubah menjadi bentuk penyiksaan pada ikan yang bersangkutan. Lakukanlah hal tersebut dalam batas-batas kewajaran. Dan tetap diingat bahwa faktor genetik memegang peranan penting. Selama kita tahu persis tetua Louhan yang dipelihara adalah dari jenis cichlid dengan kepala jenong, maka louhan yang dipelihara, setelah sampai pada masanya, akan berkepala jenong.

PROSEDUR PENERIMAAN TAMU

 

  1. PETUGAS MEMPERSILAHKAN MENGISI BUKU TAMU YANG TELAH DISEDIAKAN DENGAN SOPAN DAN RAMAH
  2. APABILA TAMU MEMBAWA KENDARAAN, PETUGAS MEMPERSILAHKAN UNTUK MEMARKIR KENDARAAN TAMU TSB DI TEMAPT PARKIR YANG TELAH DISEDIAKAN.
  3. PETUGAS MENGINFORMASIKAN KE PADA  ORANG YANG HENDAK DITEMUI.
  4. TAMU MENINGGALKAN KARTU ID
  5. TAMU DIBERIKAN KARTU VISITOR DAN SURAT TAMU OLEH PETUGAS.
  6. DIPERSILAHKAN MENUNGGU DI RUANG RESEPSIONIS/ DIRUANG TUNGGU
  7. SETELAH SELESAI TAMU MEYERAHKAN SURAT TAMU YANG TELAH DI TANDA TANGANI  OLEH ORANG YANG DITEMUI
  8. MENYERAHKAN KARTU VISITOR DAN MENGAMBIL KARTU ID YANG BERSANGKUTAN

PROSEDUR PENERIMAAN BARANG

 

  1. KURIR/SUPIR MENGISI BUKU EXPEDISI YANG TELAH DISEDIAKAN
  2. PETUGAS MEMERIKSA  BARANG/SURAT BERDASARKAN DATA YANG ADA PADA SURAT JALAN
  3. SURAT JALAN DI TANDANGANI OLEH PETUGAS DAN DI CAP.
  4. BARANG/SURAT UNTUK PERUSAHAAN DIBERIKAN KEPADA PETUGAS RESEPSIONIS
  5. BARANG/SURAT UNTUK KARYAWAN/TI DI SIMPAN DI POS SATPAM DAN DI INOMASIKAN KEPADA KARYAWAN YANG BERSANGKUTAN OLEH PETUGAS JAGA

 

 

 

 

 

 

PROSEDUR PENGIRIMAN BARANG

 

  1. SETIAP PENGIRIMAN BARANG HARUS ADA SURAT JALAN
  2. SURAT JALAN KELUAR DITERBITKAN OLEH BAGIAN GUDANG YANG TELAH DIBUBUHI TANDA TANGAN PENGAWAS GUDANG DAN CAP
  3. PETUGAS MEMERIKSA BARANG BERDASARKAN SURAT JALAN TERSEBUT TERMASUK RUANG KEMUDI KENDARAAN TSB
  4. SURAT JALAN DI TANDA TANGANI DAN DI CAP OLEH PETUGAS SATPAM
  5. PETUGAS MENCATAT DALAM DOKUMEN PENGIRIMAN BARANG

 

 

 

 

 

 

 

 

PROSEDUR KELUAR/MASUK KENDARAAN

 

  1. SETIAP KENDARAAN MASUK/KELUAR PETUGAS MEMERIKSA SURAT JALAN ATAU SURAT SURAT KELUAR KENDARAAN DAN MEMERIKSA KARTU IDENTITAS SUPIR
  2. PETUGAS MENCATAT IDENTITAS SUPIR DAN JENIS KENDARAAN
  3. PETUGAS MEMERIKSA KENDARAN TERMASUK KABIN
  4. KENDARAAN DIPERSILAHKAN KELUAR/MASUK

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PROSEDUR PENGAWASAN BONGKAR MUAT

 

  1. BONGKAR (MENURUNKAN BARANG DALAM KENDARAAN)
    1. APABILA MOBIL PENGIRIMAN BARANG DATANG SATPAM MEMERIKSA MUATAN MOBIL TERSEBUT TERMASUK KABIN.
    2. SATPAM MENGAWASI TURUNYA BARANG TERSEBUT BERDASARKAN SURAT JALAN.
    3. SETELAH SEMUA BARANG TURUN DARI KENDARAAN SATPAM MEMERIKSA KENDARAAN TERSEBUT JANGAN SAMPAI ADA BARANG YANG TERTINGGAL DALA KENDARAAN.

 

  1. MUAT ( MENGISI KENDARAAN DENGAN BARANG YANG AKAN DIANGKUT)
    1. APABILA KENDARAAN AKAN MEMUAT BARANG SATPAM HARUS MEMASTIKAN KENDARAAN TERSEBUT DALAM KEADAAN KOSONG.
    2. PADA SAAT BARANG DIMUAT SATPAM MENGAWASI BERDASARKAN SURAT JALAN/PAKING LIST.
    3. SETELAH SEMUA BARANG MASUK KEDALAM MOBIL SATPAM HARUS MEMASIKAN PINTUK KENDARAAN TERSEBUT DALAM KEADAAN TERKUNCI.

 

PROSEDUR PENGAWASAN LINGKUNGAN

 

1.PETUGAS/SATPAM BERPATROLI SETIAP HARI BERDASARKAN ROUTE/DENAH LINGKUNGAN PABRIK.

2.PETUGAS SATPAM MEMBAWA AMANO KONTROL SEBAGAI ALAT PATROLI LINGKUNGAN.

3.LAPORAN AMONO KONTROL DISERAHKAN KEPADA KEPALA SATPAM

4.DOKUMENTASI AMANO KONTROL DAN KEJADIAN SELAMA BERPATROLI.

 

PROSEDUR  SERAH TERIMA TUGAS JAGA

 

1.15 MENIT SEBELUM PENGGATIAN SHIFT SATPAM MEMERIKSA PERALATAN DAN PERLENGKAPAN KERJA.

2.SATPAM MEMBUAT LAPORAN TUGAS JAGA DALAM BUKU KEJADIAN.

3.SATPAM MEYERAHKAN TUGAS JAGA KEPADA SHIFT BERIKUTNYA BERDASARKAN LAPORAN BUKU.

4.SATPAM SHIFT BARU MELANJUTKAN TUGAS JAGA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PROSEDUR PENERIMAAN KARYAWAN BARU

 

  1. KEPALA BAGIAN MEMBUAT SURAT PERMOHONAN PENAMBAHAN KARYAWAN BARU KEPADA BAGIAN PERSONALIA.
  2. PERSONALIA MENGUMUMKAN LOWONGAN KERJA PADA PAPAN PENGUMUMAN ATAU MELALUI MEDIA CETAK DENGAN PERSYARATAN TERTENTU.
  3. PERSONALIA AKAN MENYELEKSI SETIAP APLIKASI LAMARAN SESUAI DENGAN KRITERIA YANG DIBUTUHKAN.
  4. PERSONALIA MEMANGGIL PELAMAR MELALUI SURAT ATAPUN MELALUI TELPON.
  5. PERSONALIA MELAKUKAN WAWANCARA DAN TEST
  6. APABILA PELAMAR LOLOS DALAM WAWANCARA DAN TEST AKAN DIPANGGIL ULANG UNTUK MENGISI FORMULIR DAN PERJANJIAN KERJA.
  7. PERSONALIA MEMBERIKAN KARTU ID DAN KARTU ABSENSI UNTUKSEBAGAI KARYAWAN MASA PERCOBAAN.
  8. PERSONALIA AKAN MEMBERIKAN PELATIHAN SEBAGAI KARYAWAB BARU
  9. PERSONALIA MEMBERIKAN INFORMASI KEPADA SATPAM DAN BAGIAN PRODUKSI UNTUK KARYAWAN BARU TERSEBUT.
  10. PERSONALIA AKAN MENGEVALUASI SELAMA TIGA BULAN SEBAGAI MASA PERCOBAAN.
  11. APABILA LULUS DALAM MASA PERCOBAAN MAKA SECARA OTOMATIS KARYAWAN  TERSEBUT MENJADI KARYAWAN TETAP.

 

PROSEDUR PELATIHAN KARYAWAN BARU

 

  1. HARI PERTAMAN KARYAWAN BEKERJA DIBERIKAN PELATIHAN.
  2. PELATIHAN MELIPUTI  :
    1. TATA TERTIB KARYAWAN
    2. PERHITUNGAN UPAH
    3. PERATURAN PERUSAHAAN (PKB)
    4. KEAMANAN DAN KESELAMATAN KERJA
    5. PENGGUNAAN PERALATAN DAN PERLENGKAPAN KERJA
    6. PETUNJUK DAN RAMBU-RAMBU YANG ADA DALAM LOKASI KERJA.
    7. TUGAS DAN PEKERJAAN YANG DIBERIKAN OLEH ATASAN.

 

 

 

 

 

 

 

 

PROSEDUR PEMBERITAHUAN KARYAWAN PUTUS HUBUNGAN KERJA

 

  1. SETIAP KARYAWAN  YANG PUTUS HUBUNGAN KERJA PERSONALIA MEMBERIKAN SURAT KEPUTUSAN KEPADA KARYAWAN TERSEBUT.
  2. SURAT KEPUTUSAN DIBUAT DALAM RANGKAP 4
    1. TEMBUSAN KEPADA BAGIAN KEUANGAN
    2. TEMBUSAN KEPADA BAGIAN SATPAM
    3. TEMBUSAN KEPADA BAGIAN PRODUKSI
    4. DAN SATU LEMBAR UNTUK ARSIP
    5. KARYAWAN MENYERAHKAN KARTU IDENTITAS KARYAWAN.
    6. KARYAWAN MEYERAHKAN PERALATAN KERJA DAN PERLENGKAPAN KERJA.
    7. PERSONALIA MEMBUAT DOKUMENTASI KARYAWAN YANG SUDAH KELUAR.

 

PROSEDUR INTROGASI

 

 

1.DILAKUKAN DI KANTOR  DAN OLEH KEPALA SATPAM

2.KEPALA SATPAM MEMASTIKAN PELAKU/KARYAWAN DALAM KEADAAN SEHAT JASMANI DAN ROHANI

3.KEPALA SATPAM MEMASTIKAN PELAKU KARYAWAN AKAN MEMBERIKAN KETERANGAN YANG DAPAT DIPERTANGGUNG JAWABKAN

4.KEPALA SATPAM MENGAJUKAN PERTANYAAN PERTANYAAN YANG RELEVAN DENGAN PERMASALAHAN.

5.PELAKU/KARYAWAN DIBERIKAN HAK UNTUK TIDAK MENJAWAB

6.SEMUA PERTANYAAN DAN JAWABAN DI CATAT DAN DITANDA TANGANI OLEH KEDUA BELAH PIHAK.

 

 

 

 

PROSEDUR KELUAR MASUK KARYAWAN

  1. JAM MASUK/KELUAR KERJA KARYAWAN ADALAH

SEBAGAI BERIKUT :

A. SHIFT PAGI                : JAM 6.30   –  1430

B. SHIFT SIANG             : JAM 14.30 – 11.30

C. SHIFT MALAM          : JAM 11.30 –   6.30

D. SHIFT NS                    : JAM 8.00   – 15.00

2.      KARYAWAN KELUAR/MASUK DIPERIKSA OLEH

SATPAT DI POS 2.

3.      KARYAWAN DIPERIKSA MELIPUTI :

A. ID KARYAWAN

B. BARANG BAWAAN KARYAWAN

4.      APABILA TERJADI MASALAH SATPAM MENAHAN

KARYAWAN TERSEBUT DI KANTOR SATPAM.

 

 

 

 

 

 

Kepmen Pelaksanaan UU No. 13 Tahun 2003

Kepmen No. KEP. 223/MEN/2003
tentang Jabatan-Jabatan di Lembaga Pendidikan yang Dikecualikan dari Kewajiban Membayar Kompensasi
Kepmen No. KEP. 224/MEN/2003
tentang Kewajiban Pengusaha yang Mempekerjakan Pekerja/Buruh Perempuan antara Pukul 23.00 s/d 07.00
Kepmen No. KEP. 225/MEN/2003
tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Akreditasi Lembaga Pelatihan Kerja
Kepmen No. KEP. 226/MEN/2003
tentang Tata Cara Perijinan Penyelenggaraan Program Pemagangan di Luar Wilayah Indonesia
Kepmen No. KEP. 227/MEN/2003
tentang Tata Cara Penetapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia
Kepmen No. KEP. 228/MEN/2003
tentang Tata Cara Pengesahan Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing
Kepmen No. KEP. 229/MEN/2003
tentang Tata Cara Perijinan dan Pendaftaran Lembaga Pelatihan Kerja
Kepmen No. KEP. 230/MEN/2003
tentang Golongan & Jabatan Tertentu Yang Dapat dipungut Biaya Penempatan Tenaga Kerja
Kepmen No. KEP. 231/MEN/2003
tentang Tata Cara Penangguhan Pelaksanaan Upah Minimum
Kepmen No. KEP. 232/MEN/2003
tentang Akibat Hukum Mogok Kerja Yang Tidak Sah
Kepmen No. KEP. 233/MEN/2003
tentang Jenis dan Sifat Pekerjaan Yang Dijalankan Secara Terus Menerus
Kepmen No. KEP. 234/MEN/2003
tentang Waktu Kerja dan Istirahat Pada Sektor Usaha Energi dan Sumber Daya Mineral pada Daerah Tertentu
Kepmen No. KEP. 235/MEN/2003
tentang Jenis-Jenis Pekerjaan yang Membahayakan Kesehatan, Keselamatan atau Moral Anak
Kepmen No. KEP. 255/MEN/2003
tentang Tata Cara Pembentukan dan Susunan Keanggotaan Lembaga Kerjasama Bipartit
Kepmen No. KEP. 48/MEN/2004
Tata Cara Pembuatan dan Pengesahan Peraturan Perusahaan Serta Pembuatan dan Pendaftaran Perjanjian Kerja Bersama
Kepmen No. KEP. 49/MEN/2004
Ketentuan Struktur dan Skala Upah
Kepmen No. KEP. 51/MEN/2004
Istirahat Panjang pada Perusahaan Tertentu
Kepmen No. KEP.100/MEN/VI/2004
Ketentuan Pelaksanaan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu
Kepmen No. KEP.101/MEN/VI/2004
Tata Cara Perijinan Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja/Buruh
Kepmen No. KEP.102/MEN/VI/2004
Waktu Kerja Lembur dan Upah Kerja Lembur



7th All Indonesia Koi Show 2010
Image
Show terbesar di penghujung tahun ini, yang merupakan agenda rutin, akan kembali digelar di Exhibition Hall Lt.3 Mega Kemayoran – Jakarta, tanggal 3-5 Desember 2010 dengan nama 7th All Indonesia Koi Show 2010. Melombakan 17 jenis Koi dari 14 kategori ukuran.

Juri yang akan hadir berjumlah 10 orang yang ditunjuk langsung oleh All Japan Nishikigoi Promotion Association, yaitu :

1)  Joji Konishi (Konishi Koi Farm, Hiroshima)
2)  Tamotsu Nagashima (Nagashima Koi Farm, Shizuoka)
3)  Manabu Ogata (Ogata Koi Farm, Fukuoka)
4)  Kenji Konishi (Maruchiku Gyoen, Fukuoka)
5)  Masayoshi Nakayama (Nakayama Fish Farm, Nagasaki)
6)  Koichi Oyama (Oyama Fish Farm, Hiroshima)
7)  Makoto Tanaka (Marusho Koi Farm, Niigata)
8)  Shigeyoshi Tanaka (Maruju Koi Farm, Niigata)
9)  Katsuyuki Hoshino  (Hoshikin KOi Farm, Niigata)
10)  Toshiaki Ito (Marutoshi Fish Farm , Aichi)

Jenis yang dilombakan sebagai berikut :

  1. Kohaku
  2. Taisho Sanshoku
  3. Showa Sanshoku
  4. Shiro Utsuri
  5. Hi Ki Utsurimono
  6. Bekko
  7. Shusui
  8. Asagi
  9. Koromo
  10. Goshiki
  11. Kawarimono
  12. Hikarimono
  13. Hikari Moyomono
  14. Kinginrin A
  15. Kinginrin B
  16. Tancho
  17. Doitsu

Sementara untuk ukuran dan biaya pendaftaran sebagai berikut :

s/d 20 cm Rp. 200.000,-
21 – 25 cm Rp. 250.000,-
26 – 30 cm Rp. 350.000,-
31 – 35 cm Rp. 400.000,-
36 – 40 cm Rp. 450.000,-
41 – 45 cm Rp. 500.000,-
46 – 50 cm Rp. 550.000,-
51 – 55 cm Rp. 750.000,-
56 – 60 cm Rp. 750.000,-
61 – 65 cm Rp.1.000.000,-
66 – 70 cm Rp.1.000.000,-
71 – 75 cm Rp.1.250.000,-
76 – 80 cm Rp.1.250.000,-
over 80 cm Rp.1.500.000,-

Sewa Bak Rp.1.250.000,-

Sementara untuk kejuaran yang diperebutkan sebagai berikut :

Over 80 cm Grand Champion A,B
Over 80 cm Runner Up Grand Champion A
71 – 80 cm Superior Champion A,B
61 – 70 cm Mature Champion A,B
51 – 60 cm Adult Champion A,B
41 – 50 cm Young Champion A,B
31 – 40 cm Junior Young Champion A,B
21 – 30 cm Baby Champion 2 A,B
Up to 20 cm Baby Champion 1 A,B
Over 80 cm Jumbo A,B
Over 60 cm Male Champion A,B
all size Best Tategoi
Over 70 cm Best in Variety
Over 80 cm Best In Size Melati Prize
76 – 80 cm Best In Size Melati Prize
71 – 75 cm Best In Size Melati Prize
66 – 70 cm Best In Size Melati Prize
61 – 65 cm Best In Size Melati Prize
56 – 60 cm Best In Size Melati Prize
51 – 55 cm Best In Size Melati Prize
46 – 50 cm Best In Size Melati Prize
41 – 45 cm Best In Size Melati Prize
36 – 40 cm Best In Size Melati Prize
31 – 35 cm Best In Size Melati Prize
26 – 30 cm Best In Size Melati Prize
21 – 25 cm Best In Size Melati Prize
Up to 20 cm Best In Size Melati Prize
All Size 1st place, 2nd place, 3rd place
Most Entry
Most Point
Most Handling
Last Updated ( Thursday, 04 November 2010 )
5th Blitar Young Koi Show
Image
Penyelenggaran “The 5th Blitar young Koi Show” tahun 2010 merupakan kegiatan sebagai upaya kelanjutan program Blitar Koi Club yang terdiri dari Kontes Koi Lokal yang pada tahun 2009 berganti nama Event yaitu Young Koi Show dan Kontes Koi Tingkat Nasional ( All Blitar Koi Show ) yang dilaksanakan 2 ( dua ) kali dalam satu tahun. Jadi event ini merupakan ajang yang ditunggu-tunggu para pencinta koi khususnya dan masyarakat pada umumnya.

Kegiatan yang diadakan pada tanggal 6 s/d 7 November 2010 di BBI ( Balai Benih Ikan ) Kelurahan Rembang Kota Blitar Merupakan Bukti Bahwa BKC Tetap Eksis dan Konsisten terhadap program Mempromosikan sekaligus mempersatukan antara pelaku usaha, petani / pembudidaya, penggemar koi serta stake holder dibidang perikanan, sehingga tercipta iklim yang sehat bagi industri koi di Indonesia.

Karena begitu besar harapan semua pihak akan suksesnya event ini maka diharapkan adanya peningkatan profesionalisme bagi penyelenggara serta dukungan dari semua pihak dalam pelaksanaan “The 5th Young Blitar Koi Show”.

Jenis ikan yang dilombakan :
1. Kohaku
2. Taisho Sanke
3. Showa Sanshoku
4. Shiro Utsuri
5. Hi-Ki Utsuri / Bekko
6. Shusui / Asagi
7. Koromo / Goshiki
8. Doitsu Gosanke
9. Tancho
10. Hikari
11. Kin Gin Rin A
12. Kin Gin Rin B
13. Kawarimono

Ukuran dan Biaya :

Up to 15        Rp.100.000,-
16 – 20 cm    Rp.100.000,-
21 – 25 cm    Rp.150.000,-
26 – 30 cm    Rp.150.000,-
31 – 35 cm    Rp.200.000,-
36 – 40 cm    Rp.200.000,-
41 – 45 cm    Rp.300.000,-
46 – 50 cm    Rp.300.000,-

 

Last Updated ( Sunday, 31 October 2010 )
1st Serayu Young Koi Show 2010
Setelah melalui penjurian yang cukup ketat akhirnya Kohaku 60 cm milik Energi 7000 dari Bandung dinobatkan sebagai Grand Champion A pada 1st Serayu Young Koi Show, 6-8 Agustus 2010 di Green Valley Resort, Baturraden Purwokerto. Sementara Grand Champion B diraih oleh Achmad Sony dari Bandung dengan Kujaku 52 cm.

Peraih poin terbanyak adalah Achmad Sony dengan 12.275 poin dari 28 juara. Peserta terbanyak diraih Dodo Koi dengan 55 ekor.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.